Sedikit menengok kebelakang, dari pengalaman selama uji coba
hampir satu tahun ternak kroto saya belum pernah mengalami sampai kroto
berjamur dan akhirnya mati. Karena saya selalu mengawasi setiap toples hari
demi hari mengamati perkembangan semut rangrang. Tetapi jika sahabat flodesta
tidak mempunyai waktu untuk melihat apa yang terjadi pada krotonya. Tentu saja
saya juga mengerti dan memaklumi karena kesibukan kerja yang gak bisa di
tinggalkan. Karena budidaya semut rangrang juga tidak mudah, tahu sendiri
habitatnya yang asli di alam. Kalau saja mudah dipegang seperti binatang lain
pasti kita akan mudah merawatnya. Bahkan kita tidak bisa membuat jinak si semut
merah ini. Dipegang saja langsung menggigit.
Saya akan menjawab lewat blog Griya Kroto pertanyaan dari salah
satu petani Kroto yang menjadi member Griya Kroto. Beberapa hari yang lalu saya
mencoba membuka inbox email saya, lumayan banyak yang harus saya jawab.
Walaupun sebenarnya sudah saya jawab melalui email. Sabar ya.. untuk yang belum
terjawab.
Kroto berjamur bisa di sebabkan beberapa faktor.
- Kondisi media
(toples, botol dan sejenisnya) mengalami kekurangan udara atau lembab. Sehingga
media yang di tempatkan akan mengeluarkan air atau embun. Embun ini akan
membuat basah daripada sarang. Sehingga semut rangrang tidak bisa menjadi
nyaman untuk tinggal di situ. Jika kejadian ini berlangsung lama maka akan
menyebabkan Semut rangrang dan kroninya akan mati secara perlahan lahan.
Karena jamur ini bisa ada karena ada kandungan air. Dan yang paling tidak
enak adalah baunya jika di dalam toples sampai basah. Usahakan dalam
toples selalu kering.
- Kekurangan semut
pekerja. Semut pekerja ini yang mensuplai makanan terhadap kroto. Jika
sampai tidak ada yang memberi makan tentu akan mati. Bahkan jika
kekurangan makanan semut rangrang ini akan memangsa antar sesama.